Materi Kuliah PAI (UNSIMAR)







MATERI PEMBELAJARAN
MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
(  M P K  )
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN 2009/2010


















Universitas Sintuwu Maroso
YAYASAN PEJUANG VETERAN 45
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN POSO
Poso, 2009
Daftar ISI
Halaman
BAB  I.
Konsep Ketuhanan dalam Islam : Filsafat Ketuhanan dalam Islam


Filsafat Barat ialah tradisi filsafat yang dikembangkan bangsa Barat sejak masa klasik (abad ke-5 SM-5 M), Abad Pertengahan (abad ke-6 sampai abad ke-14M), dan masa modern (abad ke-15 M-sekarang), yang diproduksi di negara-negara Barat seperti Yunani, Italia, Perancis, Jerman, Inggris, Amerika, dan lain-lain. Sekarang kajian Filsafat Barat dipecah-pecah menjadi banyak cabang, seperti filsafat analitik, filsafat Eropa, filsafat Jerman, dan lain-lain.
Sejarah Filsafat Barat’, terutama sejarah Filsafat Barat abad ke-20, telah dikaji oleh K. Bertens dalam karyanya Filsafat Barat Abad XX dan Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman. ‘Filsafat Barat Klasik`, seperti Filsafat Yunani-Kuno sejak Thales hingga Plotinus, telah dikaji oleh Mohammad Hatta (salah satu pendiri Republik Indonesia) dalam bukunya Alam Pikiran Yunani. ‘Filsafat Skolastik’, sejak Santo Anselmus hingga Santo Thomas Aquinas, telah dikaji oleh A. Hanafi dalam bukunya Filsafat Skolastik.
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Рhilo dan sophia. Philo atau philein berarti cinta, sophia berarti kebijaksanaan. Gabungan kedua kata dimaksud berarti cinta kebijaksanaan. Philosophos adalah pecinta kebijaksanaan. Da1am bahasa Arab disebut Failasuf, kemudian ditransfer ke dalam bahasa lndonesia menjadi Failasuf atau Filsuf.[1]
Selain itu, dalam bahasa Arab dikenal kata hikmah yang hampir sama dengan arti kebijaksanaan. Kata hikmah atau hakiem dalam bahasa Arab dipakai dalam pengertian falsafah dan failasuf, tetapi harus dilihat dalam konteks ара kata hikmah dan hakiem itu digunakan, karena tidak semua kata hikmah atau hakiem itu digunakan. Hal itu menunjukkan bahwa tidak semua kata hikmah atau hakiem dapat diartikan dengan falsafah atau filosuf.[2]
Filsafat аdalah pengetahuan tentang benar (knowledge of truth). Dalam hal ini terdapat persamaan filsafat dan аgamа. Тujuаn agama adalah menerangkan apa yang benar dan apa yаng baik, sеdаng filsafat jugа menerangkan ара yang benar dan ара yang baik. Yang Benar Pertama l-haqqu al-awwalu = the First Truth), menurut al-Kindi adalah Tuhan. Filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan, sebagaimana dinyatakan al­-Kindi : Filsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah filsafat utama, yaitu ilmu tentang Yang Benar Pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar.[3]

1.      Siapakah Tuhan itu?

Sesuai dengan faham dalam Islam, menurut al-Kindi Tuhan adalah Pencipta. Menurut аl-Kindi, аlаm bukan kekal di zaman lampau (qadim), tetapi mempuyai permulaan. Dalam hal ini al-Kindi lebih dekat раdа filsafat Plotinus, yang mengatakan bahwa Yang Maha Satu adalah Sumber dari alam dan sumber dari ѕegala yang аdа. Alam adalah emanasi dari Yang Maha Satu.[4]
Filsafat Plotinus tersebut merupakan wujud pengakuan ke-Esa-an Tuhan Yang Ahad, dalam Islam. Esa dalam zatnya, Esa dalam sifatnya dan Esa dalam perbuatan-Nya (Esa dalam menciptakan, Esa dalam menentukan keputusan). Karena itu, agama Islam adalah agama tauhid. Konsep ketauhidan yang dimaksud merupakan realisasí dari ucapan syahadat yakni dua kalimat syahadat (syahadatain). Hal itu berdasarkan firman Allah yang termaktub dalam al-Qur'an surat al-Ikhlash [112]: 1- 4 sebagai berikut:
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ   ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr&
(1) Katakanlah: "Dia-lah Allah Yang Maha Esa, (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, (3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, (4) dan tidak ada seorangpun yang setara/serupa dengan Dia.

Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik, menjadi bukti adanya sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya, suatu "Akal" yang tidak аdа batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya "аdа" dan percaya pula bahwa alam ini dа". Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan inilah dilakukan berbagai kegiatan ilmiah.
Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus percaya tentang adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan : Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya Khaliq adalah suatu pernyataan 'yang tidak benar’. Belum pernah diketahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak аdа tanpa diciptakan. Segala sesuatu bagaimana pun ukurannya, pasti аdа penyebabnya. Oleh karena itu, bagaimana akan percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, аdа dengan sendirinya tanpa pencipta?
Pemikiran terhadap Allah yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, atau Ilmu Ushuluddin di kalangan umat Islam, timbul ѕеjаk wafatnya Nаbi Muhammad SAW. Secara garis besar аdа aliran yang bersifat liberal, tradisional, dan аdа рulа yang bersifat di antara keduanya. Sebab timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan metodologi dalam memahami al-Qur'an dan Hadits. Sebagian umat memahami dengan pendekatan kontekstual, sehingga lahir aliran yang bersifat liberal. Sebagian umat Islam memahami dengan pendekatan tekstual, sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional. Sedang sebagian umat Islam yang lain memahami dengan pendekatan antara kontekstual dengan tekstual, sehingga lahir aliran moderat yang bersifat antara liberal dengan tradisional. Ketiga corak pemikiran ini telah mewarnai sejarah pemikiran ilmu ketuhanan dalam Islam.
Untuk itu perlu adanya pembuktian bahwa Allah adalah Tuhan dari semua yang dipertuhankan atau siapa pun yang memproklamirkan sebagai Tuhan. Untuk menjawab itu semua akan dikemukakan 3 (tiga ) teori / dalil:
a.   Dalil fitrah manusia.
Allah SWT menciptakan manusia dengan fithrah bertu­han. Atau dengan kata lain setiap anak manusia dilahirkan sebagai seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka ibu bapak­nyalah (yang akan berperan) `mengubah' anak itu menjadi seorang Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi" (HR. Bukhari).
كل مولد يولد على الفطرة

Fithrah dalam hadits di atas bisa kita pahami sebagai Is­lam, karena Rasulullah SAW hanya menyebutkan kedua orangtua bisa berperan meyahudikan, menashranikan atau memajusikan, tanpa menyebut "mengislamkan". Jadi hadits di atas bisa kita pahami "setiap anak dilahirkan sebagai seorang muslim...." jika ia sebagai muslim berarti secara fitrah ia bertuhan.
Namun demikian fithrah manusia tersebut barulah merupakan potensi dasar yang harus dipelihara dan dikem­bangkan. Apabila fithrah tersebut tertutup oleh beberapa faktor luar manusia dan menentang fithrahnya sendiri. Tetapi apabila menghadapi suatu kejadian yang luar biasa, misalnya dihadapkan kepada sesuatu yang tidak disenangi, dan dia sudah kehilangan segala daya untuk menghadapinya, bahkan sudah berputus asa, barulah secara spontan fithrahnya tersebut kem­bali muncul.[5] Allah SWT menggambarkan keadaan manusia seperti itu dalam firman-Nya:
#sŒÎ)ur ¡§tB z`»|¡RM}$# ŽØ9$# $tR%tæyŠ ÿ¾ÏmÎ7/YyfÏ9 ÷rr& #´Ïã$s% ÷rr& $VJͬ!$s% $£Jn=sù $uZøÿt±x. çm÷Ztã ¼çn§ŽàÑ §tB br(Ÿ2 óO©9 !$oYããôtƒ 4n<Î) 9hŽàÑ ¼çm¡¡¨B 4 y7Ï9ºxx. z`Îiƒã tûüÏùÎŽô£ßJù=Ï9 $tB (#qçR%x. šcqè=yJ÷ètƒ
Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus [10]: 12)
uqèd Ï%©!$# ö/ä.çŽÉi|¡ç Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur ( #Ó¨Lym #sŒÎ) óOçFZä. Îû Å7ù=àÿø9$# tûøïty_ur NÍkÍ5 8xƒÌÎ/ 7pt6ÍhŠsÛ (#qãm̍sùur $pkÍ5 $pkøEuä!%y` ìxƒÍ ×#Ϲ$tã ãNèduä!%y`ur ßlöqyJø9$# `ÏB Èe@ä. 5b%s3tB (#þqZsßur öNåk¨Xr& xÝÏmé& óOÎgÎ/   (#âqtãyŠ ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# ÷ûÈõs9 $uZoKøpgUr& ô`ÏB ¾ÍnÉ»yd žúsðqä3uZs9 z`ÏB tûï̍Å3»¤±9$#
Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Yunus [10]: 22)
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ
maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[6]. (QS. al-Rum [30]: 30).

ÎoTÎ) àMôg§_ur }Îgô_ur Ï%©#Ï9 tsÜsù ÅVºuq»yJ¡¡9$# šßöF{$#ur $ZÿÏZym ( !$tBur O$tRr& šÆÏB šúüÏ.ÎŽô³ßJø9$#
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. al-An’am [6]: 79).

Dengan dalil fithrah ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara esensi tidak аdа seorang manusia pun yang tidak bertuhan. Yang аdа hanyalah mereka mempertuhankan sesua­tu yang bukan Tuhan yang sebenarnya (Allah). Misalkan se­orang atheis mempertuhankan "atheisme", seorang materialis mempertuhankan "materialisme" dan lain-lain sebagainya.[7]

2.   Dalil Akal
Dengan menggunakan akal pikiran untuk merenungkan dirinya sendiri, alam semesta dan lain-lainnya, seorang manusia bisa membuktikan adanya Tuhan (Allah SWT). Al-Qur'an banyak mengemukakan ayat-ayat yang menggugah akal pikir­an tersebut, antara lain:
÷Pr& (#qà)Î=äz ô`ÏB ÎŽöxî >äóÓx« ÷Pr& ãNèd šcqà)Î=»yø9$#
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (QS. al-Thur [52]: 35).

uqèd Ï%©!$# Nà6s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõÜœR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ §NèO öNä3ã_̍øƒä WxøÿÏÛ §NèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£ä©r& ¢OèO (#qçRqä3tFÏ9 %Y{qãŠä© 4 Nä3ZÏBur `¨B 4¯ûuqtGム`ÏB ã@ö6s% ( (#þqäóè=ö7tFÏ9ur Wxy_r& wK|¡B öNà6¯=yès9ur šcqè=É)÷ès?
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (QS. Al-Mukmin [40]: 67)

žcÎ) Ÿ@sVtB 4Ó|¤ŠÏã yZÏã «!$# È@sVyJx. tPyŠ#uä ( ¼çms)n=yz `ÏB 5>#tè? ¢OèO tA$s% ¼çms9 `ä. ãbqä3usù
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran [3]: 59).

ßìƒÏt/ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( 4¯Tr& ãbqä3tƒ ¼çms9 Ó$s!ur óOs9ur `ä3s? ¼ã&©! ×pt6Ås»|¹ ( t,n=yzur ¨@ä. &äóÓx« ( uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ
Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS. al-An’am [6]: 101).

t¤yur ãNà6s9 Ÿ@ø©9$# u$yg¨Y9$#ur }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur ( ãPqàfZ9$#ur 7Nºt¤|¡ãB ÿ¾Ín̍øBr'Î/ 3 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqè=É)÷ètƒ
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya). (QS. al-Nahl [16]: 12).

$tBur r&usŒ öNà6s9 Îû ÇÚöF{$# $¸ÿÎ=tFøƒèC ÿ¼çmçRºuqø9r& 3 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍞2¤tƒ
Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS. al-Nahl [16]: 13).

uqèdur Ï%©!$# t¤y tóst7ø9$# (#qè=à2ù'tGÏ9 çm÷ZÏB $VJóss9 $wƒÌsÛ (#qã_̍÷tGó¡n@ur çm÷YÏB ZpuŠù=Ïm $ygtRqÝ¡t6ù=s? ts?ur šù=àÿø9$# tÅz#uqtB ÏmŠÏù (#qäótFö7tFÏ9ur ÆÏB ¾Ï&Î#ôÒsù öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±s?
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. al-Nahl [16]: 14).

4s+ø9r&ur Îû ÇÚöF{$# źuru br& yÏJs? öNà6Î/ #\»pk÷Xr&ur Wxç7ßur öNà6¯=yè©9 tbrßtGöhs?
dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. (QS. al-Nahl [16]: 15).

;M»yJ»n=tæur 4 ÄNôf¨Z9$$Î/ur öNèd tbrßtGöku
Dan (dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). dan dengan bintang-bintang Itulah mereka mendapat petunjuk. (QS. al-Nahl [16]: 16).
`yJsùr& ß,è=øƒs `yJx. žw ß,è=øƒs 3 Ÿxsùr& šcr㍞2xs?
maka Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (QS. al-Nahl [16]: 17).

uqèdur üÏ%©!$# tAtRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ/ |N$t7tR Èe@ä. &äóÓx« $oYô_t÷zr'sù çm÷YÏB #ZŽÅØyz ßl̍øƒU çm÷YÏB ${6ym $Y6Å2#uŽtIB z`ÏBur È@÷¨Z9$# `ÏB $ygÏèù=sÛ ×b#uq÷ZÏ% ×puŠÏR#yŠ ;M»¨Yy_ur ô`ÏiB 5>$oYôãr& tbqçG÷ƒ¨9$#ur tb$¨B9$#ur $YgÎ6oKô±ãB uŽöxîur >mÎ7»t±tFãB 3 (#ÿrãÝàR$# 4n<Î) ÿ¾Ín̍yJrO !#sŒÎ) tyJøOr& ÿ¾ÏmÏè÷Ztƒur 4 ¨bÎ) Îû öNä3Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sãƒ
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan butir yang banyak dari tanaman yang menghijau itu; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS. al-An’am [6]: 99)

ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur tAtRr&ur šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( t¤yur ãNä3s9 šù=àÿø9$# y̍ôftGÏ9 Îû ̍óst7ø9$# ¾Ín̍øBr'Î/ ( t¤yur ãNä3s9 t»yg÷RF{$#
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS. Ibrahim [14]: 32).

uqèd üÏ%©!$# tAtRr& šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ( /ä3©9 çm÷ZÏiB Ò>#tx© çm÷ZÏBur ֍yfx© ÏmŠÏù šcqßJŠÅ¡è@
Dia-lah, yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. (QS. al-Nahl [16]: 10)

àMÎ6/Zム/ä3s9 ÏmÎ/ tíö¨9$# šcqçG÷ƒ¨9$#ur Ÿ@ϨZ9$#ur |=»uZôãF{$#ur `ÏBur Èe@à2 ÏNºtyJ¨V9$# 3 ¨bÎ) Îû šÏ9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍤6xÿtGtƒ
Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. al-Nahl [16]: 11)

ó>ÎŽôÑ$#ur Mçlm; Ÿ@sV¨B Ío4quŠptø:$# $u÷R9$# >ä!$yJx. çm»oYø9tRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# xÝn=tG÷z$$sù ¾ÏmÎ/ ÛV$t6tR ÇÚöF{$# yxt7ô¹r'sù $VJϱyd çnrâõs? ßx»tƒÌh9$# 3 tb%x.ur ª!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« #·ÏtGø)B
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Kahfi [18]: 45)

Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 uÚöF{$# #YôgtB y7n=yur öNä3s9 $pkŽÏù Wxç7ß tAtRr&ur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ÿ¾ÏmÎ/ %[`ºurør& `ÏiB ;N$t7¯R 4Ó®Lx©
Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (QS. Thaha [20]: 53)

ô`ÏBur ¾ÏmÏG»tƒ#uä ãNà6ƒÌãƒ s-÷Žy9ø9$# $]ùöqyz $YèyJsÛur ãAÍit\ãƒur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ¾Çósãsù ÏmÎ/ šßöF{$# y÷èt/ !$ygÏ?öqtB 4 žcÎ) Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqè=É)÷ètƒ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. (QS. al-Rum [30]: 24)

t,n=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÎŽötóÎ/ 7uHxå $pktX÷rts? ( 4s+ø9r&ur Îû ÇÚöF{$# zÓźuru br& yÏJs? öNä3Î/ £]t/ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. 7p­/!#yŠ 4 $uZø9tRr&ur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oY÷Gu;/Rr'sù $pkŽÏù `ÏB Èe@à2 8l÷ry AOƒÍx.
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang-biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (QS. Luqman [31]: 10).

öNs9urr& (#÷rttƒ $¯Rr& ä-qÝ¡nS uä!$yJø9$# n<Î) ÇÚöF{$# Îãàfø9$# ßl̍÷ãYsù ¾ÏmÎ/ %Yæöy ã@à2ù's? çm÷ZÏB öNßgßJ»yè÷Rr& öNåkߦàÿRr&ur ( Ÿxsùr& tbrçŽÅÇö7ãƒ
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (QS. al-Sajadah [32]: 27).

É#»n=ÏG÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur !$tBur tAtRr& ª!$# z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# `ÏB 5-øÍh $uŠômr'sù ÏmÎ/ uÚöF{$# y÷èt/ $pkÌEöqtB É#ƒÎŽóÇn@ur Ëx»tƒÌh9$# ×M»tƒ#uä 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ
dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. al-Jatsiyah [45]: 5).

Untuk membuktikan adanya Tuhan (Allah SWT) lewat merenungkan alam semesta, termasuk diri manusia itu sendiri, dapat dipakai beberapa "qanun" (teori, hukum) antara lain:
а.   Qanun al-‘Illah
`Illah artinya ѕеbаb. Segala sesuatu аdа sebabnya. Setiap аdа perubahan tentu аdа yang menjadi sebab terjadinya peru­bahan itu. Begitu juga sesuatu yang аdа tèntu аdа yang mengadakannya. Sesuatu menurut akal mustahil аdа dengan sendiri­nya. Siapakah yang mengadakan alam semesta ini?[8]
b.   Qanun al-Wujub
Wujub artinya wajib. Wujud segala sesuatu tidak bisa terlepas dari salah satu kemungkinan: wajib, mustahil atau mungkin. Tentang alam semesta, adanya tidaklah wajib dan tidak pula mustahil, karena keduanya tidak bertentangan de­ngan aka1. Kalau tidak wajib dan tidak pula mustahil tentu mungkin. Artinya adanya alam semesta ini mungkin, tidak adanya juga mungkin. La1u siapa yang menentukan yang mungkin itu menjadi аdа atau tidak аdа? Tentu bukan juga yang bersifat mungkin. Haruslah yang bersifat wajib аdа (wajib al-wujud), dalam hal ini bukanlah alam semesta itu sendiri.[9]
с.   Qanun al-Huduts
Huduts artinya baru. Alam semesta seluruhnya adalah sesuatu yang hadits (baru, аdа awalnya), bukan sesuatu yang qadim (tidak berawal). Kalau hadits, tentu аdа yang mengada­kannya. Dan yang mengadakannya itu tentulah bukan yang juga bersifat hadits, haruslah yang bersifat qadim.[10]
d.   Qanun al-Nizham
Nizham artinya aturan, teratur. Alam semesta dengan seluruh isinya seperti matahari, bulan, bintang dan planet-pla­net lainnya termasuk bumi dengan segala isinya adalah segala sesuatu yang "sanggup teratur". Sesuatu yang teratur tentu аdа yang mengaturnya, mustahil menurut akal semuanya itu ter­atur dengan sendirinya secara kebetulan. (Uraian lebih luas tentang beberapa qanun ini lihat dalam buku `Aqidatul Muk­min oleh Abu Jabir аl-Jazairy, 1978, hal 48-53).[11]


[1] Zainuddin Ali, dkk, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum Indonesia (Palu: Yayasan Masyarakat Indonesia Baru. 2003), hlm. 9.
[2] Ibid., hlm 9-10.
[3] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta : Bulan Bintang. 1978), hlm. 15.
[4] Nasution, Filsafat dan Mistisisme, hlm. 16.
[5] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam. 1995), hlm. 11-12.
[6] Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
[7] Ilyas, Kuliah Aqidah, hlm. 13.
[8] Ibid., hlm. 15-16.
[9] Ibid., hlm. 16.
[10] Ibid.
[11] Ibid.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KULTUM SINGKAT

SOAL BAHASA ARAB KLS V MI